Startup Asia Isi Kekosongan Anthropic — Sakana Fugu dan 360 AI Laris Manis di Tengah Larangan Ekspor
Ketika pemerintah AS menerbitkan larangan ekspor untuk model AI canggih Anthropic seperti Mythos dan Fable 5, sebuah kekosongan besar pun tercipta di pasar Asia. Langkah cepat diambil oleh Sakana AI dari Jepang dengan model Fugu dan 360 dari China dengan tools keamanan AI, mengisi gap yang ditinggalkan Anthropic.
Latar Belakang: Larangan Ekspor Anthropic oleh AS
Dua minggu lalu, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan perintah yang mencegah Anthropic untuk memberikan akses global ke model-model terbaru mereka, termasuk Mythos dan Fable 5. Keputusan ini diambil karena kekhawatiran keamanan nasional, namun berdampak besar terhadap ekosistem AI global.
Anthropic, yang sedang dalam trajectory pertumbuhan historis dengan revenue run-rate mencapai $47 miliar pada Mei 2026, tiba-tiba kehilangan akses ke pasar Asia yang berkembang pesat. Perusahaan-perusahaan Asia yang sebelumnya mengandalkan model Anthropic untuk aplikasi enterprise mereka harus mencari alternatif.
Sakana Fugu: “Orchestration Model” dari Jepang
Respons datang dari Sakana AI, startup AI Tokyo yang didirikan oleh mantan peneliti Google Ren Ito, Llion Jones, dan David Ha. Mereka meluncurkan Fugu — model AI frontier yang dinamai dari kata Jepang untuk ikan buntal.
Sakana mengklaim Fugu “berdiri bahu-membahu dengan model terkemuka seperti Anthropic Fable 5 dan Mythos Preview.” Namun yang membuat Fugu unik bukan hanya kapabilitasnya, tapi pendekatan arsitektur yang berbeda.
Fugu dirancang sebagai orchestration model — model yang bisa mengkoordinasi akses ke berbagai model AI lain melalui API. Ini adalah pendekatan baru yang melampaui paradigma “bigger model is better.”
“Orchestration Models are the next frontier, beyond bigger model,” tulis David Ha, CEO Sakana, di platform X. “Relying on a single provider for national infrastructure is a risk the recent export controls made impossible to ignore.”
Fitur Utama Sakana Fugu
- Multi-model orchestration — Bisa mengakses dan mengoordinasikan berbagai model AI melalui API
- Optimized untuk bahasa Jepang — Pemahaman mendalam pada nuansa bahasa dan budaya lokal
- Efficient dengan small dataset — Bisa bekerja dengan data yang lebih sedikit dibanding model besar
- Agent-ready — Dirancang untuk aplikasi AI agent yang bisa bertindak mandiri
- Export control hedge — Alternatif yang tidak terdampak regulasi ekspor AS
360 dari China: AI Keamanan sebagai Aset Strategis
Sementara Sakana mengambil pendekatan hedging, 360 dari China justru lebih agresif. Perusahaan keamanan siber China ini meluncurkan dua tools AI:
- Tulongfeng — AI yang dirancang untuk secara otomatis menemukan software vulnerabilities
- Yitianzhen — AI untuk otomasi cyber defence dan incident response
Pendiri 360, Zhou Hongyi, menggambarkan AI pencari vulnerabilities sebagai aset strategis nasional. Ia memperingatkan tentang risiko “satu arah transparansi” — situasi di mana beberapa aktor bisa mengakses kemampuan deteksi vulnerability canggih sementara yang lain tidak.
Pernyataan ini mencerminkan ketegangan geopolitik yang lebih besar dalam AI, di mana kemampuan AI menjadi alat kekuatan nasional bukan hanya untuk aplikasi komersial.
Mengapa Ini Penting: Fragmentasi AI Global
Perkembangan ini menandai momen penting dalam fragmentasi AI global. Beberapa tahun lalu, dunia AI relatif terpusat — model terbaik datang dari beberapa perusahaan AS, dan seluruh dunia menggunakannya. Sekarang, kita menuju ekosistem yang lebih terfragmentasi:
| Region | Provider Utama | Strategi |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | OpenAI, Anthropic, Google | Full-stack AI ecosystem |
| Jepang | Sakana AI, Preferred Networks | Orchestration + local optimization |
| China | 360, Baidu, Alibaba | Sovereign AI + security |
| Korea Selatan | Naver, Upstage | Enterprise AI localization |
Pandangan Sakana: AI Bukan untuk Disimpan
Co-founder Sakana AI, Ren Ito, menulis op-ed di Project Syndicate yang meminta pemerintah AS untuk mempertimbangkan bahwa “prioritas utama harus menjaga akses” untuk sekutu terdekat Amerika. Ia berargumen bahwa “AI tidak boleh menjadi teknologi yang disimpan; ini harus menjadi teknologi yang dikembangkan bersama.”
Pandangan ini konsisten dengan pernyataan Ito di KTT G7 di Evian pekan lalu, di mana akses AI dan kontrol ekspor menjadi topik pembahasan utama. Meskipun Sakana memanfaatkan momen ini untuk mendapatkan perhatian lebih, mereka tidak menyatakan pergeseran permanen dari AI AS di Asia.
“Model AS tetap penting untuk Asia,” kata juru bicara Sakana. Ini mencerminkan realitas bahwa meskipun alternatif lokal muncul, mereka melengkapi bukan menggantikan model AS yang sudah terbukti.
Implikasi untuk Indonesia
Untuk Indonesia, fragmentasi AI global ini memiliki beberapa implikasi penting:
- Diversifikasi sumber AI — Indonesia tidak perlu bergantung pada satu provider AS saja
- Model lokal yang relevan — Pendekatan Sakana yang optimized untuk bahasa lokal bisa jadi inspirasi untuk startup Indonesia
- Keamanan AI nasional — Pelajaran dari 360 bahwa AI bisa menjadi aset strategis keamanan nasional
- Orchestration approach — Menggunakan berbagai model AI sesuai kebutuhan bisa lebih efisien daripada bergantung pada satu model
Masa Depan: Multipolar AI Ecosystem
Kehadiran Sakana Fugu dan tools 360 di pasar Asia menandai transisi menuju ekosistem AI multipolar. Tidak ada lagi satu dominan model yang digunakan seluruh dunia. Sebagai gantinya, kita akan melihat:
- Model AI yang dioptimalkan untuk bahasa dan budaya lokal
- Orchestration layer yang bisa mengakses berbagai model
- Regulasi nasional yang mempengaruhi ketersediaan model
- Keamanan AI sebagai prioritas strategis negara
Kesimpulan
Larangan ekspor Anthropic oleh pemerintah AS telah membuka peluang bagi startup Asia untuk mengisi kekosongan pasar. Sakana Fugu dari Jepang dan tools 360 dari China adalah contoh bagaimana perusahaan lokal bisa merespons cepat terhadap perubahan geopolitik AI. Ini menandai dimulainya era baru di mana AI tidak lagi didominasi oleh beberapa perusahaan AS, melainkan menjadi ekosistem global yang lebih beragam dan terfragmentasi.
FAQ — Pertanyaan Umum tentang Asia AI Startup dan Larangan Ekspor Anthropic
1. Apa itu larangan ekspor Anthropic?
Larangan ekspor Anthropic adalah perintah pemerintah AS yang mencegah Anthropic untuk memberikan akses global ke model-model terbaru mereka seperti Mythos dan Fable 5, karena kekhawatiran keamanan nasional.
2. Apa itu Sakana Fugu?
Sakana Fugu adalah model AI frontier dari startup Jepang Sakana AI. Fugu adalah orchestration model yang bisa mengkoordinasi akses ke berbagai model AI lain melalui API, dioptimalkan untuk bahasa Jepang dan aplikasi enterprise.
3. Apa yang dilakukan 360 dari China?
360 meluncurkan Tulongfeng (AI untuk menemukan software vulnerabilities) dan Yitianzhen (AI untuk otomasi cyber defence). Perusahaan ini menggambarkan AI keamanan sebagai aset strategis nasional.
4. Apakah model AS masih penting untuk Asia?
Ya, menurut Sakana AI sendiri, model AS tetap penting. Alternatif lokal seperti Fugu dirancang untuk melengkapi, bukan menggantikan, model AS yang sudah terbukti kualitasnya.
5. Bagaimana dampaknya untuk Indonesia?
Indonesia mendapat keuntungan dari diversifikasi provider AI, inspirasi untuk pengembangan model lokal, dan pendekatan orchestration yang lebih efisien. Namun, regulasi nasional tetap perlu diperhatikan.
5 Poin Penting
- Sakana Fugu dari Jepang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh larangan ekspor Anthropic
- 360 dari China meluncurkan tools AI keamanan sebagai respons terhadap fragmentasi AI global
- Orchestration model adalah pendekatan baru yang melampaui paradigma “bigger is better”
- Ekosistem AI multipolar menggantikan dominasi beberapa perusahaan AS
- Indonesia mendapat keuntungan dari diversifikasi dan inspirasi untuk startup AI lokal
“AI should not become a technology that is hoarded; it should be one that is developed together.” — Ren Ito, Co-founder Sakana AI
Baca juga: Unconventional AI: Inovasi Komputasi Oscillator untuk Potong Daya AI 1000x
